Jadi manusia itu rumit. Di beri aksi A, reaksinya tidak selalu B. Yang satu di colek marah, yang itu dicolek senang, yang lain dicolek ngomong ‘maaf mas siapa ya?’.

Tapi segimanapun rumitnya manusia, kita pasti butuh yang namanya manusia lain, makanya ada yang namanya teman atau sahabat, kekasih juga termasuk, meski sedikit banyak agak berbeda.

Mereka yang sudah bertemu dengan orang terdekat mereka, apapun itu bentuknya adalah orang-orang yang paling beruntung. Orang-orang ini punya wadah untuk banyak bercerita, banyak bercanda, dan berkeluh kesah tentang harinya. Sedikit berbeda dengan orang-orang pencari yang berakhir berdua dengan tembok kamar atau sepasang bantal untuk diajak bicara. Sedangkan yang paling parah berakhir di tali gantung, seperti orang-orang yang berharta di luar sana tapi tidak punya tempat untuk bercerita. Karena betapapun kuatnya seseorang, manusia tidak akan pernah menang dari yang namanya kesepian.

Banyak cerita seseorang bisa bertemu orang terdekatnya itu. Ada orang yang dari zaman TK sampai sekarang masih berteman dengan orang yang sama sehingga jadi orang yang paling dekat sampai umurnya sekarang. Sementara ada juga yang dari zaman TK sampai sekarang belum tau temannya siapa. Di sisi bumi lain bisa jadi ada cerita dimana telah merasa punya orang terdekat tadi, meski kenyataannya orang terdekat itu tidak sama pikirannya.

Jika kita termasuk orang yang beruntung tadi, kita tidak bisa berpikir seperti orang yang masih mencari siapa sahabatnya. Sedangkan yang mencari tadi adalah yang menanti untuk sedikit dihargai dan dianggap ada. Bagi orang-orang beruntung, ia bebas bercerita pada tempatnya. Sedangkan yang mencari, berpikir kapan ia menjadi tempat bercerita. Manusia yang menang dari kesepian mampu berjalan, sedangkan yang kalah dari kesepian masih mencari jalan. Layaknya ekspektasi versus realiti di suatu film romantis, hal ini juga terjadi pula bagi orang yang masih belum punya orang terdekat bagi dirinya. Agak sedikit berlebihan, tapi benar.

Mungkin didekat kita ada orang yang menunggu tuk menjadi tempat berkisah, berbagi canda, dan menukar rasa. Selama masih punya teman, sejauh atau sedekat apapun, mungkin ini saatnya menyadari jika waktu kita tidak lama untuk banyak bercerita, karena di depan sana, bis kita hampir tiba di tujuan, dan kita harus turun, lalu menaiki bis masing-masing ke tempat yang berbeda. Mumpung masih ada, jangan sampai baru merasa hilang jika memang sudah tiada.

Salam ayu ting ting.