Ada puluhan kalimat serius nan berbobot yang biasa dilontarkan oleh beberapa teman dekat saya. Ga kalah hebat, ratusan kalimat becandaan juga keluar masih dari mulut yang sama. Bak sebuah menu, diantara kalimat-kalimat becandaan itu ada hidangan spesial yang biasa jadi langganan saya.

Menu yang satu ini bahan utamanya, adalah kata-kata kunci berbau keterpurukan menjadi jomblo romantisme tidak sukses: ‘fakir cinta’ kalo kata radityadika. Menu yang biasa disodorkan oleh banyak teman ini — terutama steffie prilianty dan reza ambardi — saya dapet terus, bukan karena hidangannya enak atau nagih. Mungkin karena ga ada lagi menu lain yang bisa dicicipi. *garuk parket

Selintas kepikiran mungkin, apa sih rasanya hidangan yang satu ini. Apa rasanya asin, asem, manis, pahit, kecut, atau ga jelas sama sekali? Ya.. apapunĀ  rasanya hidangan ini, yang pasti, ga perlu jadi alasan untuk kesel sama orang-orang yang memberi hidangan ini. Karena terkadang saya sendiri yang sukarela melahapnya, dengan rakus terkadang.

Bukan apa-apa, tapi setelah seperdelapan windu kemarin tidak bisa menikmati hal baru, saya menjadi sedikit kesal, serta sedikit menyesal. Ok, banyak sebenarnya. Tidak jarang saya terlalu hanyut dalam renungan singkat atau panjang seputar hal-hal seperti ini, walau terlalu banyak berdialog dengan otak sendiri juga bukan hal yang baik.

Karena sama juga seperti orang kebanyakan. Terlalu sering menikmati suatu makanan yang sama itu membuat kita ingin mencoba menu lain. Meski begitu, menu lain itu bisa jadi cukup mahal untuk dipesan saat ini, belum lagi kita tidak tahu rasanya.

Yaa.. ibarat koki yang tidak mau memberi kita makanan mahal kalo kita belum siap bayar, Tuhan juga tidak bisa menitipkan sesuatu kepada kita jika kita belum siap untuk menerimanya. Sepertinya saya masih harus bisa menikmati hal yang sama ini sampai beberapa waktu kedepan.. dalam tempo yang belum ditentukan.

Eh, sudah ada menu spesial tadi di atas meja. Dilahap dulu ah~ *bersulang