Behind Photographs – The most famous photographs presented by their photographers
by Tim Mantoani
(via museumofusefulthings)
Source: mantoani.com
Behind Photographs – The most famous photographs presented by their photographers
by Tim Mantoani
(via museumofusefulthings)
Source: mantoani.com
Diberikan list nama temen-temen seangkatan
“oh, saya sekelompok sama x, y, z, a, b, c, d”.
“siapa ya dosennya?”
“eh, pak Biru”
“Dosen baru ya?”
mulai aneh
seseorang ngomong:
“iya, ini pembagian kelompok studio AR4000”
…
“EH?!”
Kemudian jam 06.00 pagi di ruang keluarga, cuci muka. Masih deg-degan.
Bisa jadi yang terburuk adalah saat orang lain — termasuk teman, tidak mampu menerima, tidak menyukai, tidak nyaman akan karakter, sifat dan sikap kita. Karena saat itulah kita berhasil dibuat tidak nyaman juga dengan karakter kita tersebut. Sebab apa yang mampu diterima oleh orang lain adalah yang mampu membuat kita tetap maju. Mungkin ada yang acuh dan tetep hajar sambil maju, sementara yang kebalikannya juga tidak sedikit.
Setelah sekian lama tidak datang, maka malam ini ia datang
‘Terima kasih’
‘Untuk apa? aku tidak pernah memberi?’
‘Bukan, tapi untuk menerima’
‘Hari ini aku tidak menerima mu’
‘Bukan, tapi setahun ini hingga kemarin’
‘Maaf..’
‘Untuk apa?’
‘Membuatmu jatuh pada ribaanku’
‘Tidak masalah, aku sangat lega’
‘Akan tetap sama, bukan?’
‘Baiklah’
Kemudian tirai panggung di turunkan dan peran masih mereka bawa hingga hari ini.
.. dan jarang-jarang saya masih terjaga hingga pukul tiga pagi menulis di gedung arsi. Kali ini menulis menjadi pilihan tepat disaat banyak yang harus ditumpahkan, meski halaman situs tidak bisa menanggapi sebaik teman.
Getas adalah kata yang sedikit banyak cocok untuk menggambarkan keadaan orang-orang empat minggu belakangan, begitulah contoh majas totem pro parte.
Seolah semuanya bertamu di waktu yang sama, mau itu keluarga, kuliah, teman, hingga yang bukan sekadar teman. Sebenarnya standar lah ya, kata-kata kunci tadi semua pernah selewat-dualewat hinggap di bahu orang-orang. Hanya saja, bahu yang di buat Tuhan, tidak diciptakan sama kuat.
Oleh karena itu ada beberapa orang yang memilih menurunkan beban di bahu tadi sejenak untuk diangkat kembali, tapi beberapa ada yang tidak mengangkat kembali. Ada juga yang mengangkat sampai tujuan, setelah tiba, bahunya copot ke lantai. Namun saya tidak begitu yakin dengan jumlah orang yang ditawari bahu orang lain untuk dipinjami, belakangan diketahui semakin sedikit jumlahnya, ya benar, kali ini majas sarkasme.
Beberapa menit saya berhenti sebentar mengingat bahwa banyak yang terjadi selama dua puluh tahun, terutama dua tahun delapan bulan belakangan. Persis sebuah mozaik dengan kisah yang unik di tiap kepingnya, sesak menyadari banyak yang terlewatkan, banyak yang berubah, dan banyak yang dirindukan dari hal-hal kecil seperti itu. Meski sebenarnya, manusia tidak boleh menatap kaca spion terus menerus kalau mau melaju dengan baik. Katanya.
Dimana kalian? atau dimana saya? siapa kalian? siapa saya? sampai mana kita? cukupkah waktu saya? sampai kapankah? secara bergantian seolah olah mengambang lima senti di depan dahi, meminta diamati. Mungkin pandangan saya terhalangi hal-hal seperti itu hingga tersendat untuk melaju lurus ke depan. Mungkin.
Sudah lewat dua puluh tiga menit sejak huruf pertama ditulis. dan saya sadar bahwa gaya menulis hari ini bukan milik saya biasanya. Saatnya pulang, karena pagi hampir jatuh.
Lahirlah matahari-matahari baru yang membahana, menunggangi punggung-punggung gunung, mengudara prahara. Saat ia di puncak bukit, seorang tukang kayu mengayun-ayunkan kapak pada pohon tua yang membunyikan sendi-sendi kaku dibalik lipatan kulit, seperti nyawa bukan apa-apa kecuali kembali pada kubur istrinya. Kemudian ia turun selangkah dua langkah hingga ia menemukan anak kecil melongok pada lubang sumur mendulang air untuk mengusir dahaga adik kecilnya, seperti awan yang tak paham arah kembara saat badai datang. Hingga matahari-matahari berguling melewati bebatuan lembah menemukan wanita mengumbar sumpah pada seorang suami—meski ia tak paham mengapa, seperti air yang kembali pada telaga untuk pulang dari hujan. Dan matahari-matahari berharap tidak dilahirkan kecuali satu yang mengerti makna perjalanan mereka, kini dialah yang menantangmu tiap pagi dan juga mengantarmu pulang tiap senja.